Pascasarjana UINSI Samarinda Bahas Peluang dan Tantangan Generasi Z dalam Memahami Al-Qur’an di Era Digital
Pascasarjana UINSI – SAMARINDA, – Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menyelenggarakan kuliah umum bertema “Peluang dan Tantangan Generasi Z dalam Berdialog dengan Kitab Suci” di Aula Kampus 1 UINSI Samarinda. Kegiatan ini menghadirkan Guru Besar Farmakologi, Prof. Dr. KH. Muh. Nur Kholis Setiawan, M.A., sebagai narasumber utama, dengan moderator Koordinator Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana, Dr. Fuad Fansuri, M.Th.I.
Kuliah umum ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa Pascasarjana untuk memperluas wawasan mengenai dinamika interaksi Generasi Z dengan Al-Qur’an di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kegiatan tersebut sekaligus mendorong penguatan tradisi intelektual Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip keilmuan yang mendasarinya.
Dalam sambutannya, Wakil Direktur Pascasarjana UINSI Samarinda menekankan pentingnya mengangkat tema tersebut sebagai respons terhadap perubahan pola belajar, pencarian informasi, dan pemahaman keagamaan di kalangan generasi muda. Kehadiran teknologi digital, termasuk AI, telah membuka peluang baru dalam mengakses sumber-sumber keislaman. Namun, pemanfaatannya tetap memerlukan sikap kritis, kecermatan, dan tanggung jawab akademik.
Dalam pemaparannya, Prof. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa Generasi Z memiliki karakteristik, pola pikir, serta kebiasaan mengakses informasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Perbedaan tersebut tidak semestinya dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk mengembangkan pendekatan dialog dengan Al-Qur’an yang lebih kontekstual, kreatif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda.
Menurutnya, penggunaan media sosial, aplikasi digital, dan kecerdasan buatan dalam memperoleh pemahaman keagamaan perlu diimbangi dengan penguasaan metodologi keilmuan serta ketepatan dalam memilih sumber rujukan. Teknologi dapat menjadi sarana pendukung pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan proses kajian ilmiah yang mendalam dan otoritas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia juga menyoroti munculnya beragam penafsiran dan pemaknaan ayat-ayat Al-Qur’an di ruang digital. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an terus hadir dalam kehidupan masyarakat modern. Meski demikian, pemahaman terhadap ayat-ayat suci harus dibangun melalui pendekatan yang cermat, memperhatikan konteks, serta berpijak pada tradisi keilmuan Islam yang kuat.
Lebih lanjut, Prof. Nur Kholis mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti pada pemahaman yang bersifat permukaan. Mahasiswa Pascasarjana perlu memperdalam khazanah tafsir, tasawuf, hadis, dan ilmu-ilmu Al-Qur’an sebagai fondasi untuk mengembangkan pemikiran yang kritis sekaligus memiliki kedalaman spiritual.
Ia menegaskan bahwa tradisi intelektual ulama klasik memberikan pelajaran penting mengenai keberanian berpikir, kedalaman ilmu, dan keseimbangan antara rasionalitas dengan moralitas. Nilai-nilai tersebut perlu terus dikembangkan dalam kehidupan akademik agar kajian keislaman mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Menjadi ilmuwan berarti memiliki posisi keilmuan yang jelas dan tanggung jawab terhadap temuannya,” ujar Prof. Nur Kholis.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya integritas akademik dalam proses penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kajian Al-Qur’an, dalam konteks pendidikan tinggi, tidak cukup hanya mendeskripsikan fenomena, tetapi juga perlu menghasilkan analisis yang mendalam, argumentasi yang kuat, serta pemahaman yang relevan dengan persoalan kehidupan kontemporer.
Selain memperkuat wawasan keilmuan, kuliah umum ini juga berkaitan dengan upaya peningkatan produktivitas akademik mahasiswa Pascasarjana UINSI Samarinda. Mahasiswa didorong untuk menghasilkan artikel ilmiah yang berkualitas sebagai wujud kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendukung peningkatan mutu dan capaian akreditasi program studi.
Penulisan artikel ilmiah bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif, melainkan bagian penting dari proses pembentukan tradisi akademik. Melalui penelitian dan publikasi, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi secara sistematis, serta menyampaikan gagasan berdasarkan data dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui penyelenggaraan kuliah umum ini, Pascasarjana UINSI Samarinda menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya akademik yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, pendalaman khazanah keislaman, dan respons terhadap tantangan era digital. Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong mahasiswa menjadi intelektual Muslim yang berwawasan Qur’ani, kritis, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta menjunjung tinggi integritas dan akhlak dalam kehidupan akademik maupun sosial.
Humas Pascasarjana : (I.m)



