Pascasarjana UINSI Samarinda
Pascasarjana UINSI

IPCoIS 2026: Dr. Hj. Noorthaibah Paparkan Internalisasi Nilai-Nilai Sufistik sebagai Strategi Ketahanan Mental di Era Modern

PASCASARJANA UINSI SAMARINDA NEWS – Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat tradisi akademik dan pengembangan keilmuan Islam melalui penyelenggaraan The 4th International Postgraduate Conference on Islamic Studies (IPCoIS) 2026. Mengusung tema “Islam in the Society 5.0 Era: Integrating Faith, Technology, and Humanity for Sustainable Civilization”, konferensi internasional ini menjadi ruang strategis bagi para akademisi untuk mendiskusikan berbagai tantangan dan peluang peradaban di tengah akselerasi perkembangan teknologi dan perubahan sosial global.

Salah satu narasumber yang turut berkontribusi dalam forum ilmiah tersebut adalah Dr. Hj. Noorthaibah, M.Ag., akademisi dari UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Dalam presentasinya yang berjudul “Internalisasi Nilai-Nilai Sufistik dalam Menghadapi Tantangan Kehidupan di Era Modern”, beliau menawarkan perspektif keislaman yang menempatkan tasawuf sebagai pendekatan transformatif dalam membangun ketahanan mental, keseimbangan spiritual, serta karakter manusia modern.

Dalam paparannya, Dr. Noorthaibah menjelaskan bahwa kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, serta meningkatnya kompleksitas kehidupan modern telah melahirkan berbagai tantangan psikologis dan spiritual.

Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan budaya, tetapi juga memengaruhi kualitas kehidupan batin manusia. Di tengah kemudahan akses informasi dan perkembangan kecerdasan buatan, manusia modern dihadapkan pada risiko kehilangan makna hidup, meningkatnya kecemasan, serta melemahnya refleksi spiritual.

Menurutnya, problem utama masyarakat modern bukanlah keterbatasan informasi, melainkan berkurangnya kebijaksanaan dalam memaknai kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu mengintegrasikan dimensi intelektual, emosional, dan spiritual secara seimbang. Dalam konteks tersebut, nilai-nilai sufistik memiliki relevansi yang kuat sebagai fondasi pembentukan pribadi yang tangguh dan berintegritas.

Lebih lanjut, Dr. Noorthaibah menegaskan bahwa tasawuf tidak dapat dipahami sebagai bentuk pelarian dari realitas sosial, melainkan sebagai metode adaptasi yang memungkinkan individu menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan ketenangan batin, kesadaran diri, dan orientasi spiritual yang kuat. Internalisasi nilai-nilai sufistik dipandang sebagai proses transformasi diri yang mampu menghubungkan manusia dengan dimensi transendental tanpa mengabaikan tanggung jawab sosialnya.

Dalam membangun ketahanan jiwa, beliau menguraikan pentingnya tahapan-tahapan spiritual yang telah lama dikenal dalam tradisi tasawuf, mulai dari taubat, wara’, zuhud, fakir, sabar, tawakal, hingga ridha. Tahapan tersebut bukan sekadar konsep teoretis, melainkan proses pembentukan karakter yang berkelanjutan untuk menciptakan pribadi yang memiliki daya tahan terhadap tekanan hidup, kemampuan mengendalikan diri, serta kesiapan menghadapi perubahan zaman.

Dr. Noorthaibah juga menyoroti pentingnya pengendalian materialisme dalam kehidupan modern. Menurutnya, manusia perlu membangun kesadaran bahwa kepemilikan materi hanyalah sarana, bukan tujuan utama kehidupan. Konsep zuhud dan fakir dalam perspektif tasawuf tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap dunia, melainkan kemampuan menempatkan dunia secara proporsional sehingga tidak mendominasi orientasi hidup seseorang.

Foto Pemaparan materi Dr. Hafini bin Mahmud dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam

Selain itu, beliau menekankan bahwa internalisasi nilai-nilai sufistik berkontribusi terhadap pembentukan karakter manusia yang produktif, kritis, dan resilien. Individu yang memiliki kedalaman spiritual cenderung lebih mampu mengelola tekanan hidup, menghadapi ketidakpastian, serta menjaga keseimbangan antara pencapaian duniawi dan tanggung jawab moral.

Dalam konteks Society 5.0, nilai-nilai sufistik juga memiliki relevansi terhadap penguatan ekosistem pendidikan, dakwah, dan ruang sosial. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter dan identitas. Dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar keagamaan, melainkan hadir dalam berbagai ruang digital dan sosial dengan pendekatan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Menutup presentasinya, Dr. Noorthaibah menegaskan bahwa tantangan terbesar masyarakat modern bukanlah kemajuan teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan manusia dalam menjaga keseimbangan antara perkembangan intelektual dan kedalaman spiritual. Oleh karena itu, internalisasi nilai-nilai sufistik menjadi salah satu alternatif strategis untuk membangun peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga kuat secara moral, spiritual, dan kemanusiaan.

Melalui forum IPCoIS 2026, gagasan tersebut memperkaya diskursus akademik mengenai pentingnya integrasi antara keimanan, teknologi, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam mewujudkan peradaban berkelanjutan. Kontribusi pemikiran yang disampaikan menunjukkan bahwa khazanah tasawuf tetap memiliki relevansi yang tinggi dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan kontemporer sekaligus menjadi fondasi bagi pembangunan masyarakat yang berkarakter, beradab, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Humas Pascasarjana (I.m)